Just another WordPress.com site

KLASIFIKASI ILMU PENGETAHUAN

          Ilmu (atau ilmu pengetahuan) adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan, dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia. Segi-segi ini dibatasi agar dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti. Ilmu memberikan kepastian dengan membatasi lingkup pandangannya, dan kepastian ilmu-ilmu diperoleh dari keterbatasannya.

         Ilmu bukan sekadar pengetahuan (knowledge), tetapi merangkum sekumpulan pengetahuan berdasarkan teori-teori yang disepakati dan dapat secara sistematik diuji dengan seperangkat metode yang diakui dalam bidang ilmu tertentu. Dipandang dari sudut filsafat, ilmu terbentuk karena manusia berusaha berfikir lebih jauh mengenai pengetahuan yang dimilikinya. Ilmu pengetahuan adalah produk dari epistemologi.

         Contoh: Ilmu Alam hanya bisa menjadi pasti setelah lapangannya dibatasi ke dalam hal yang bahani (materiil saja), atau ilmu psikologi hanya bisa meramalkan perilaku manusia jika lingkup pandangannya dibatasi ke dalam segi umum dari perilaku manusia yang konkret. Berkenaan dengan contoh ini, ilmu-ilmu alam menjawab pertanyaan tentang berapa jarak matahari dan bumi, atau ilmu psikologi menjawab apakah seorang pemudi cocok menjadi perawat

    Dalam menghadapi berbagai ilmu pengetahuan, orang akan bertanya tentang jenis ilmu pengetahuan. Dengan perkataan lain, ilmu pengetahuan, kita golongkan menurut jenis tertentu. Hal ini merupakan masalah klasifikasi ilmu pengetahuan karena setiap klasifikasi menuntut suatu dasar. Dengan demikian, kita akan mempersoalkan dasar itu terlebih dahulu.Berikut adalah klasifikasi ilmu berdasarkan subjek, objek dan metodenya.

A.Klasifikasi berdasarkan Subjek

Francis Bacon (1561-1626) mendasarkan klasifikasi ilmunya pada subjek, yaitu daya manusia untuk mengetahui sesuatu. Berdasarkan hal tersebut, ia membeda-bedakannya sebagai berikut :

1.Ilmu pengetahuan ingatan, seperti sejarah, yaitu membicarakan masalah-masalah atau kejadian yang telah lalu, meskipun dimanfaatkan untuk masa depan.

2.Ilmu pengetahuan khayal, seperti kesusastraan, yaitu membicarakan kejadian-kejadian dalam dunia khayal, meskipun berdasar dan untuk keperluan dunia nyata.

3.Ilmu pengetahuan akal, seperti filsafat, yaitu umumnya, pembahasannya mengandalkan diri pada logika dan kemampuan berpikir.

Klasifikasi tersebut tidak dapat dibenarkan apabila pemikiran kita berpangkal pada pandangan bahwa kita tidak akan mungkin mengenal dengan akal, ingatan, atau daya khayal semata, tetapi dengan seluruh pribadi kita.

B. Klasifikasi berdasarkan Objek

A.M. Ampere (1775-1836) mendasarkan klasifikasinya pada objek material. Berdasarkan hal itu, ia membedakan ilmu pengetahuan kosmologis yang mempersoalkan benda materi dengan ilmu pengetahuan noologis yang mempersoalkan benda rohaniah.
Auguste Comte (1798-1836) mendasarkan klasifikasinya pada objek material pula. Ia membuat deretan ilmu pengetahuan berdasarkan perbedaan objek material, yaitu

1. Ilmu pasti/matematika,

Objek ilmu pasti adalah yang paling bersahaja karena hanya menyangkut angka yang mengikuti aturan tertentu, pasti

2. Ilmu falak/astronomi,

ilmu falak menambahkan unsur gerak terhadap matematika, misalnya kinematika.


3. Ilmu fisika,

Objek ilmu alam adalah ilmu falak atau matematika ditambah dengan zat dan gaya,


4. Ilmu kimia,

objek ilmu kimia merupakan objek ilmu fisika ditambah dengan perubahan zat.


5. Ilmu hayat/biologi

Unsur gejala kehidupan dimasukkan pada objek ilmu hayat.


6. Sosiologi.

sosiologi mempelejari gejala kehidupan manusia berkelompok sebagai makhluk sosial.

C. Klasifikasi berdasarkan Metode


Wilhelm Windelband (1848-1915) membeda-bedakan ilmu pengetahuan alam dan ilmu sejarah. Menurut Widelband, kedua jenis ilmu pengetahuan itu tidak berbeda dalam hal objek karena objeknya satu, ialah kenyataan. Adapun perbedaannya terletak pada metode. Metode untuk ilmu pengetahuan alam disebut nomotetis, sedangkan metode ilmu pengetahuan sejarah menggunakan metode ideografis. Nomotetis berhubungan dengan nomos atau norma yang menunjuk pada adanya usaha untuk membuat hal umum atau generalisasi.

Untuk waktu yang lama, terutama sepanjang Abad ke-19, dunia ilmiah hanya berpegangan pada satu jenis ilmu yang berdasar pada metode nomotetis. Metode tersebut tertuju pada perumusan hukum (nomos). Dengan kata lain, metode nomotetis mencari sesuatu yang bersifat umum (generalisasi) yang dapat diulangi dalam eksperimen sehingga dapat diramalkan. Ciri terakhir dipandang sebagai tujuan tiap ilmu.

Pengetahuan yang tidak berdasar pada metode tersebut, dipandang tidak ilmiah. Pandangan yang menuntut metode itu sebagai satu-satunya metode untuk mencapai ilmu pengetahuan yang disebut metode monisme. Sampai saat ini, pandangan tersebut belum lenyap seluruhnya. Dalam bahasa Inggris, istilah science dan scientific kerap kali menunjuk pada pengertian ilmu pengetahuan alam dengan metode nomotetisnya.

 

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: